Showing posts with label louisa. Show all posts
Showing posts with label louisa. Show all posts

Thursday, September 2, 2010

SylLou [2]



Dulu. Setahun yang lalu, perempuan ini memboncengku dalam keadaan setengah mabuk di motornya. Aku memeluknya dari belakang, mengirup wangi rambutnya yang ditiup angin dan sepenuh harap dia akan menerimaku kembali.
Tapi, tidak mudah baginya ketika terluka untuk memaafkanku begitu saja. Ia menutup pintu rumahnya. Pintu hatinya.

Jangan bilang, aku bisa berlalu begitu saja. Jangan bilang, aku melupakan itu semua. Jangan.
Setahun bukan waktu sesaat untuk melenyapkannya dari celah-celah kosong dikepalaku. Setahun itu tidak mampu melemahkan titik-titik syarafku untuk melepaskannya. Karena aku memang tak ingin.

Aku belum tahu apa yang terjadi sesudah ini. Mengenal Lou tidak seperti melihat rumah kaca dengan isinya yang terlihat jelas. Ia tidak banyak bicara. Sepertinya hanya ada dia dan dirinya. Misteri bagiku. Tapi entah kenapa, tatapan matanya selalu menyentuhku. Aku bisa merasakannya di dalam hatiku.

Ketika mata itu menyiratkan luka, aku pun bisa merasakannya. Terlebih ketika akulah penyebabnya. Dia membuatku merasa bersalah lebih daripada kusangka. Dan tatapan itupun mampu membuatku pergi sesaat setelah pintu itu tertutup.

Saat ini, aku membawa Lou pulang kerumahnya. Saat ini, aku yang memboncengnya pulang dengan motornya. Dia memelukku dalam hening. Seperti biasa, aku menikmati keheningan ini. Aku bahagia bisa merasakannya lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Nanti, sampai dia bicara dan menatapku lagi.

"Mau ke pantai?", tanya Lou ketika kami sampai di depan pagar rumahnya.
"Boleh.. kau tidak istirahat dulu?".
Dia menggelengkan kepalanya. Lalu tangannya meraih tanganku.
Kemudian kami berjalan menuju pantai. Dia memeluk tanganku. Matanya menatap jauh ke ujung pantai.
Aku tersenyum. Lou dan pantainya. Seperti dulu.

Kami duduk di pasir yang masih hangat. Langit berganti gelap kemerahan mengikuti matahari yang merambat turun di ujung sana.
Lou memeluk lututnya. Melindungi dirinya, seperti yang biasa dilakukannya. Dan mataku, tak lepas dan tak pernah puas memandangnya. Ini seperti mimpi bagiku. Mimpi yang berulang.

"Kenapa kamu mencariku, Syl?"
, tanyanya tanpa membalas tatapanku.
Aku diam. Bukan mencari alasan. Bukan berpikir. Aku masih menikmati mimpi ini dan tak ingin terjaga.

"Syl?", tanyanya lagi. Ia menolehkan kepalanya menatapku.
Aku mengangguk. "Carikan aku alasan itu, Lou.. kenapa aku berada disini. Bersamamu. Merasakan lagi saat seperti ini.."

"Kau akan kecewa, Syl. Bukan disini tempatnya kau bisa bahagia..", jawabnya. Ia kembali menatap kedepan.
"Kenapa?.. kau tak ingin?", tanyaku berbisik. Aku menghindari jawabannya. Apapun itu.
Tapi Lou hanya menggelengkan kepalanya.

"Kenapa, Lou?.. kau sudah menemukan lelaki itu?". Aku berbisik lagi. Aku tersakiti dengan pertanyaanku sendiri.
Sekali lagi Lou menggelengkan kepalanya. "Tidak ada lelaki lain.. aku juga tidak punya siapa-siapa untuk kucintai. Hanya aku."

"Tidak juga aku?"
"Kenapa kau datang lagi, Syl?..".
"Karena aku mencintaimu Lou. Aku minta ma...."
"Sssh.. aku sudah memaafkanmu. Kau lupa?"


"Jadi izinkan aku, Lou.."
Dia menyunggingkan senyumnya sedikit. Menggeleng lagi. Menolak lagi.

"Kau mau dengar kisahku?", tanyanya.
"Tentu saja. Apapun, Lou..", jawabku penuh harap.

"Sejak beberapa tahun yang lalu, aku menamakan pantai ini dengan nama Ben. Pantai Ben.", katanya membuka kisah.
Aku membiarkannya bercerita. Menikmati bibir itu bergerak mengungkapkan apa yang tidak bisa kubaca, yang tidak pernah ku tahu.

"Ben adalah seorang yang pernah kucintai. Lelaki yang mengisi kekosongan, kehampaan diriku setelah orang tuaku mengabaikanku. Masa kecil dan masa remaja yang menyedihkan. Dia seperti doa yang terjawab di sepanjang hidupku. Aku seakan punya tempat untuk menyandarkan kepalaku yang lelah. Ia mengobati luka hatiku yang membusuk bertahun-tahun lamanya. Dahagaku akan kasih sayang terpuaskan sudah sejak dia tinggal disini bersamaku..". Lou tersenyum. Matanya menerawang jauh, kembali pada masa bahagianya sendiri.

Ada rasa sesak didadaku mendengarkan kisah secuil yang sangat berarti ini baginya. Namun, kutahan bibirku berbicara. Belum tentu aku bisa merasakan Lou berbicara seperti ini. Akan kutahan sakitku sendiri.

"Kau tahu, Syl?.. ternyata bahagiaku terbatas. Alam semesta iri dengan kebahagianku. Sedemikian rupa cara, perlahan-lahan bahagia itu ditarik keluar. Lilin yang dulu menyinariku dipadamkan. Bahkan sumbunya ditarik demi menghancurkanku.".
Lou menarik nafasnya, menyembunyikan wajahnya diatas lengan yang masih memeluk kedua lututnya.

"Apa yang terjadi?"
tanyaku tanpa bisa menahan diriku lagi.

Hening. Aku menyentuh pundaknya. Menahan diriku memeluknya. "Sudahlah, jangan ceritakan lagi kalau itu membuatmu sedih", ucapku.

Lou mengangkat kepalanya, mengusap kedua pipinya dari air mata. Tanpa memandangku, ia meneruskan ceritanya. "Ben meninggal karena sakit parah. Dia meninggalkanku. Sebelum menutup matanya dia berkata sampai kapanpun dia tidak akan meninggalkanku. Dia akan selalu ada dirumahku, di halamanku, dikamarku, dan dipantai ini. Apapun istilahnya, dia memang selalu ada. Aku bisa merasakannya. Aku seakan bisa melihatnya. Terlebih ketika aku terluka."

"Tapi aku tidak bisa mengingkari bahwa dia memang sudah tidak ada. Perlahan, semakin hari semakin nyata ketiadaannya bersamaku.."

"sampai aku datang, menghiburmu dan kemudian melukaimu?..", sambungku.

Perempuan itu tersenyum sendu menatapku. Lagi, ia menggelengkan kepalanya, dan menurunkan kedua lututnya.
Ia menepuk lembut pahanya. "Sini, rebahkan kepalamu. Kau terlihat lelah, Syl."

Dengan patuh, aku membaringkan kepalaku dipangkuannya. Ada kelegaan disana. Aku menutup kedua mataku.
Rasa bersalah itu masih menghalangi pandanganku dari matanya.

"Kau rindu aku?",
tanya Lou lembut. Tangannya mengusap rambut dari keningku.
Aku mengangguk. Aku tidak akan berkata apa-apa dulu, Lou. Saat ini terlalu indah bagiku.


Friday, August 27, 2010

SylLou [1]



Hujan yang mulai menitik jatuh di permukaan luar dinding kaca, membuyarkan lamunanku.
Sudah hampir 30 menit aku menunggu di sini. Di sudut lobby sebuah gedung kantor yang megah.
Kopi dalam cangkir plastik ditanganku mulai berkurang uapnya. Aku menyesap dan menenggaknya sampai habis.
Berdiri dari kursi bar yang tinggi itu, aku melepaskan jas yang mulai membuatku berkeringat dan menyampirkannya dilengan kiri.

Aku melirik pergelangan tangan kananku. 5.30 sore. Orang yang aku tunggu belum juga keluar dari salah satu deretan pintu lift di seberang sana. Tidak ada janji hari ini. Aku hanya ingin menunggu dan melihat reaksi.

Dia tidak mungkin terlewat dari pandanganku. Aku pasti mengenalnya dari sekian banyak karyawan kantor ini yang mulai keluar masuk sejak 30 menit yang lalu.
Benar saja. Itu dia. Itu Louisa.

Perempuan itu tidak berubah. Penampilan sederhananya dengan raut wajah yang selalu menghantui malam dan kesendirianku.
Ia mengenakan kemeja pink lembut dan rok kerja selutut berwarna coklat. Rambut ikalnya dipotong sebahu.
Menawan. Aku sampai lupa apa tujuanku datang ketempat ini.

Ia berjalan keluar lobby menuju parkiran motor. Aku mengikutinya dari belakang dan menenangkan hatiku untuk mampu bersikap baik ketika hal yang tidak aku inginkan terjadi.

"Lou.. ", panggilku pelan dan percaya dia bisa mendengarnya.
Perempuan itu menoleh, diikuti gerakan badannya yang kini menghadapku. Matanya terbuka lebar. Terkejut menatapkanku.
Ia tersenyum!..

"Syl?, kau kah itu?"
, tanyanya nyaris berbisik.
Aku melangkah mendekatinya, membalas senyumnya yang kembali menggetarkan dadaku.

Mataku tak lepas menatap matanya. Masih mata yang dulu, sendu namun tegas memandangku.
"No hugs?" , tanyaku setelah kami berjarak hanya selangkah. Berhadapan. Aku membuka kedua lenganku.

Dan disana.. seperti yang aku harapkan. Lou menyambutku. Aku memeluknya dengan kerinduan yang semoga ia bisa merasakannya.
"Apa khabar, Lou?.." bisikku, merendahkan kepalaku sejajar dengannya.
Perempuan itu diam dalam pelukanku.

Beberapa detik kemudian ia melepaskan sentuhan tangannya dari punggungku. Menatap dadaku.
"seperti yang kau lihat, Syl. Aku baik-baik saja". Tersenyum, kemudian ia menatap mataku.

Lou, maafkan aku. Pandangan itu membuatku kembali merasa bersalah.
Aku berjanji Lou, takkan adalagi cerita sedih dan air mata.
Buka lagi pintu itu untukku. Biarkan aku masuk.

Tuesday, August 24, 2010

Lou | Pantai Ben



"Aku akan mati jika kamu pergi meninggalkanku..", ucapku sewaktu duduk berdua dengan Ben dikursi pantai di teras atas rumahku. Aku duduk bersandar pada dada Ben dan dia memeluk dari belakang. Kami menikmati senja yang berwarna kemerahan dan menunggu indahnya langit itu saat mataharinya tenggelam.

"Kita tidak bisa melawan takdir, Lou.. kalaupun aku bisa, aku akan melawannya dan terus memelukmu seperti ini"..
"Oh, come on.. Lou, jangan menangis lagi. Percayalah, aku tidak akan begitu saja meninggalkanmu. Kamu selalu ada disini.. ". Iya meraih tanganku dan meletakkannya didadanya. Di kursi yang sempit buat aku dan Ben duduk itu, aku memeluk tubuhnya.. menangis dan seakan tidak ingin melepaskannya.

Aku sudah tahu, umur Ben tidak akan lama lagi. Dari awal dia memberitahukan penyakit Leukimianya, dia melatihku untuk belajar menerima takdir dari hari ke hari. Namun, sekuat-kuatnya aku melatih diriku menerima keadaan akan ditinggalkan Ben, semakin terasa rapuh hatiku. Bagaimana tidak, setiap kali ia harus muntah darah dan menemaninya terbaring kesakitan di rumah sakit, selalu membuatku menangis.

"Kamu tahu, Lou?.. seluruh badan ini terasa sakit dan lelah tak terkira, tapi melihat senyummu, belaian tanganmu, dan pelukanmu.. membuat jiwaku sungguh lebih tegar dibandingkan badanku..", ucapnya ketika aku menemaninya setelah cuci darah karena ginjalnya yang sudah tidak lagi berfungsi baik.

"Andai saja ada yang lebih besar dari ini yang bisa aku lakukan supaya kamu sembuh dan menjadikan mimpi-mimpi kita menjadi nyata, Ben.. apapun itu, akan aku lakukan..", jawabku sambil membelai rambutnya.

"Lou..?" tanya Ben, membuyarkan lamunanku.
"Hmm..?"
"Pantai ini selalu indah ketika kamu memelukku seperti ini.."
"Ya.. dan sejak kamu datang dan menemaniku di rumah ini.."
 
"Berjanjilah padaku.. "

"Berjanji?.." tanyaku sambil bangun dari pelukannya dan menatapnya.

"Kamu akan menatapku ketika memandang pantai indah ini... agar akupun tahu, kamu tidak akan melupakanku, melupakan cinta kita.. ", jawabnya sambil tersenyum.

"Tentu saja.. kamu dan pantai ini, Ben.. adalah hidupku.."

"Setidaknya pantai ini tetap ada, setelah aku pergi.." 

"tentu saja.. "


-------------------------------------

Monday, August 23, 2010

Repost: Lou | Dalam pelukan hening




Pelukannya sedikit mengurangi rasa sakitku. Aku bisa merasakan hangat dada bidangnya dipunggungku. Kemudian dia mengecup rambutku. "Masih sakit?", tanyanya. Aku membalikkan badan dan mencoba tersenyum. Tatapan mata yang penuh rasa cinta itu mendamaikanku. Masih dalam kemeja putih berlengan panjang itu, dia menyusulku yang terbaring ditempat tidur ini. Dia tahu aku sakit karena terluka. Aku membelai rambutnya yang hitam kelam itu dan membalas mengecup pipinya.

"Apakah begitu sakit?", tanya lagi. Aku mengangguk dan menangis. "Sshh...", dia mendiamkanku seraya membawaku kembali dalam pelukannya.
"Apapun yang membuatmu terluka hingga terpuruk seperti ini, Lou.. aku tidak akan membiarkannya.."
"Maafkan aku.., tapi mengapa aku kembali dilukai seperti ini..apakah aku tidak pantas dicintai?"
"Aku mencintaimu.. tapi lihat aku, apakah aku merasa pantas dicintai ketika aku harus meninggalkanmu?".


Pertanyaan yang sulit untuk kujawab. Aku mencintai laki-laki ini. Kami pernah tinggal bersama dirumah ini dan selalu bahagia dengan cinta yang kami punya. Menyusun cita-cita dengan rapi dalam angan-angan dan mimpi indah. Hingga suatu hari dia pergi meninggalkanku dalam kehampaan dan meremukkan jiwaku dalam waktu laraku. Sejak itu, sejak dia tahu aku terluka.. dia kembali mengunjungiku. Bukan untuk kembali bersama, tetapi hanya untuk menunjukan cintanya padaku. Itupun sudah cukup dan bisa kuterima lambat laun sampai saat ini.

---------------------

Sunday, August 22, 2010

Repost: Lou | Tepian Hati





Keindahan pantai Ben sudah tidak seindah ketika matahari masih menemaninya. Cahayanya sudah tergantikan dengan kerlip bintang dan beberapa lampu jalanan yang mulai menyala di pinggir jalan. Pedagang-pedagang di sepanjang pantai inipun mulai menyiapkan dagangannya untuk para penikmat malam pantai Ben.

Syl baru saja pulang setelah mengantarkanku berjalan ke rumah. Setelah mandi aku ke dapur membuat secangkir teh untuk diriku sendiri. Tegukan demi tegukan teh itu aku rasakan menghangatkan kerongkonganku, sementara pikiranku melayang mengenai kejadian hari ini. Masalah Nan dan kehadiran Syl. 

Hari ini mereka berbaur dengan hidupku, pikiran dan hatiku. Aku merasa terbebani. Untuk masalah Nan, aku ingin berteriak marah, tapi pada siapa? Siapa yang bisa aku salahkan? Lalu siapa yang memberikanku hak untuk marah?. Lantas untuk kehadiran Syl, hatiku juga tidak ingin menebak-nebak perlakuannya akhir-akhir ini, tapi layakkah aku pertanyakan?.. Dia hanya datang sebagai sahabat, apa yang salah disitu?.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Ini salahku. Aku terlalu banyak menyimpan masalah orang lain, rahasia orang lain bahkan lebih dalam lagi, masalah dan rahasiaku sendiri. Mereka harus tahu, aku bukan malaikat pendengar setia. Aku tidak punya cukup banyak ruang dalam diriku untuk semua itu. Seandainya aku bisa melepaskan beban ini, tapi sayang aku tidak bisa. It's about one-way door in it.

 

Saturday, August 21, 2010

Aku akan kembali, Lou.




Lou..

Apa khabar?
Apakah kau masih menatap langit biru membentang di pantai itu?
Apakah kau masih melamunkannya?

Sangat rentan bagiku duduk sendiri disini.
Menatap langit biru seperti menatap wajah sendumu.
Hampa.
Adakah yang bisa aku lakukan selain merindumu?
Aku rindu memelukmu.
Aku rindu tangan yang membelai puncak kepalaku.
Tangan yang bergerak bersamaan dengan senyum merekah diwajahmu.
Itu menenangkanku, Lou.

Diteras atas rumahmu dulu. Aku memelukmu dipangkuanku.
Kita menatap langit yang menggantung indah di pantai dihadapan kita.
Menikmati setiap perubahan warnanya.
Putih, biru, kuning, dan kemudian malam menutupnya seperti layar.

Ah, Lou..
Kau tersandar di dadaku. Tertidur, hingga jantungku mampu merasakan desah nafasmu.
Entah siapa yang bisa membuatmu seperti itu.
Aku kah?.. atau pantai itu, Lou?

Rasanya tak adil, jika aku tak bisa mengalahkan pantai yang cintanya seakan lebih besar dari cintaku.
Sesempurna itu kah dia buatmu, hingga malam tak sanggup memberikanmu mimpi indah tentangku?

Waktuku tak lama, Lou.
Takkan kubiarkan rinduku membuncah tertahan.
Pantai itu telalu lama melenakanmu. Melupakanku.
Aku akan kembali.




Love,


Sylvester.
Related Posts with Thumbnails